Sunday, October 21, 2012

Mencari Minak Jingga


Share to:


Pria itu buruk rupa. Mukanya sangar. Bentuk tubuh tak karuan. Seperti raksasa. Orang Jawa menyebutnya lebih mirip buto. Pokoknya menakutkan.

Perangai tak kalah horor. Tempramen dan semena-mena. Dia serakah. Haus kekuasaan dan doyan wanita. Darah di tubuhnya hitam kelam. Protagonis. Kejam.

Dialah Minak Jingga. Istrinya dua. Wahita dan Puyengan. Dayun adalah pembantunya. Gada besi kuning tak lepas dari tangannya. Dia Adipati zaman Majapahit. Tahtanya di ujung timur Jawa. Tlatah Blambangan. Itu kisah.


Sosok Minak Jingga memang misterius. Menjadi plot utama sejarah Blambangan. Disampaikan lewat babad dan seni drama. Versi juga beraneka. Mengental ratusan tahun di benak rakyat Jawa. Hingga zaman ini. Belum ada bukti ilmiah.

Alkisah Minak Jingga membangkang. Dia ingin menikahi Ratu Majapahit. Kencana Wungu alias Dewi Suhita. Namun ditolak. Majapahit mengirim Damar Wulan. Kesatria tampan.

Minak Jingga terkenal sakti mandraguna. Tak bisa kalah selama memegang gada besi kuning. Senjata andalannya. Kesatria Majapahit punya cara. Dia pikat Wahita dan Puyengan dengan paras tampan. Singkat cerita, beralihlah gada besi kuning ke tangannya. Dicuri. Melalui dua putri yang dimabuk cinta.

Pergumulan terjadi. Senjata andalan Minak Jingga ada di tangan Damar Wulan. Singkat cerita, Minak Jingga tersungkur. Kalah. Kepala dipenggal. Sebagai persembahan Rani Suhita. Itu semua juga cerita. Dalam Serat Damar Wulan.

Babad Blambangan juga punya cerita. Sama soal Minak Jingga. Bermula dari Pamengger. Nama aslinya Ajar Gunturgeni. Petapa dari Tengger. Dia mengalahkan musuh Majapahit. Sebab itu diberi tanah di Blambangan. Ketika itu oleh Raja Brawijaya.

Pamengger tak punya anak. Tak ada yang meneruskan tahta. Dia hanya punya seekor anjing. Diubah lah binatang itu jadi manusia untuk meneruskan tahta. Namun tak sempurna. Wajahnya masih bersosok anjing. Makhluk itu disebut Minak Jingga. Cerita berikutnya sama. Minak Jingga memberontak.

Perang Paregreg. Ini juga catatan. Namun lebih historis. Ceritanya soal perseteruan Blambangan dan Majapahit. Bhre Wirabumi melawan Wikramawardhana. Benang merahnya sama dengan epik yang ada. Blambangan melawan penguasa Majapahit. Ujungnya, Blambangan kalah. Majapahit tetap berkuasa.

Kitab Pararaton dan Negara Kertagama mencatat soal ini. Pararaton bercerita, Bhre Wirabumi adalah putra Hayam Wuruk dari selir. Menjadi anak angkat Bhre Daha istri Wijayarajasa. Rajadewi. Bhre Wirabumi menikah dengan Bhre Lasem sang Alemu. Putri Bhre Pajang atau adik Hayam Wuruk.

Kitab Negara Kertagama mencatat Bhre Wirabhumi lahir dari selir Hayam Wuruk. Diangkat sebagai anak oleh Rajadewi (bibi Hayam Wuruk). Dia dinikahkan dengan Nagarawardhani, cucu Rajadewi.

Pararaton bercerita. Majapahit merangsek ke timur. Kala itu masa Kalagemet alias Jayanagara berkuasa. Sekitar 1309-1328. Blambangan dikuasai. Tahun 1359-1389 Hayam Wuruk berkuasa. Saat itu, Blambangan diserahkan ke anaknya. Bhre Wirabumi.

Hayam Wuruk mangkat. Sepupu sekaligus menantu laki-lakinya, Wikramawardhana naik tahta. Sepuluh tahun berkuasa, putra pewaris tahta meninggal. Dia mundur. Jadi pertapa. Singgasana jatuh ke Suhita. Putri Wikramawardhana yang tersisa.

Bhre Wirabumi menolak. Dia berniat ke luar dari Majapahit. Blambangan ingin merdeka. Pecahlah perang Paregreg. Tahun 1404-1406. Bhre Wirabumi tewas. Kepala dipenggal. Jadi persembahan bagi Ratu Suhita. Mirip nasib Minak Jingga.

Minak Jingga, Pamengker, Bhre Wirabumi, ceritanya hampir sama. Tiga cerita itu seperti merujuk tokoh yang sama. Namun yang terakhir lebih historis.

1 comment: